Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Negara, Paranoia, dan Massa

Negara, Paranoia, dan Massa

Sebelum masuk kepembahasan ada baiknya penulis menjelaskan sedikit terlebih dahulu tentang tiap tiap istilah yang ada pada judul diatas. yang pertama yaitu tentang Paranoia.

Paranoia adalah naluri atau proses berpikir yang diyakini sangat dipengaruhi oleh kecemasan atau ketakutan, seringkali mengarah pada delusi dan irasionalitas. Pemikiran paranoia (biasa disebut Paranoid) biasanya mencakup keyakinan penganiayaan, atau keyakinan konspirasi mengenai ancaman yang dirasakan terhadap diri sendiri. Paranoia berbeda dengan fobia, yang juga melibatkan ketakutan irasional, tetapi biasanya tidak disalahkan.

Itulah penjelasan singkat mengenai Paranoia. selanjutnya tentang Massa. Massa adalah suatu sifat fisika dari suatu benda yang digunakan untuk menjelaskan berbagai perilaku objek yang terpantau. Sedangkan dalam tulisan ini, Massa diartikan sebagai kelompok manusia yang bersatu karena dasar atau suatu pegangan tertentu.

Setelah mengetahui maksud dari istilah diatas, maka saya akan menggambarkan sedikit dulu tentang contoh suatu bangsa yang menyamakan dirinya dengan Massa yaitu Kekaisaran Romawi. Dahulu para pemimpin kekaisaran Romawi sering menyamakan Roma dengan massa. Roma bukanlah senat. Roma bukanlah republik, dan bahkan bukan sang Caesar. Roma adalah massa yang menuntut kepuasan dengan perang, emas, darah, dan kemuliaan yang dibawa oleh penaklukan.

Semua ini dapat dengan mudah dilihat di pertunjukan gladiator, yang mana membuat manusia menjadi korban dalam pertunjukan tersebut. Pertunjukkan itu sangat digemari oleh "massa" Roma. Rome is the mob! jadi, apa kira kira bedanya Indonesia saat ini dengan Kerajaan Romawi waktu itu?.

Tantangan Kita Bersama

Tidak pernah ada lebih banyak waktu untuk menanyakan pertanyaan itu pada saat ini. Identitas bangsa Indonesia sekarang dipengaruhi oleh dua kutub ekstrim yaitu fanatisme ekonomi dan fanatisme agama. Fanatisme agama terbentuk dalam suasana cinta yang berlebihan pada agama tertentu dan interpretasi literal terhadap ajarannya. Sedangkan fanatisme ekonomi terbentuk dalam iklim pengejaran uang tanpa henti dengan segala cara.

Di bawah tekanan kedua ideologi itu, rasa kebangsaan kita sebagai warga Indonesia tercekik dan kitapun tidak dapat menemukan udara segar untuk hidup. Bahkan di bawah cengkeraman dua gagasan "kematian" itu, warga negaras diubah menjadi massa negara. Yang berubah bukan hanya kata-katanya, tapi juga artinya. Warga negara dengan karakteristik rasionalnya berubah menjadi massa yang emosional dan destruktif.

Paranoia dan Massa

Salah satu sebab utama pendek dan dangkalnya ingatan sosial bangsa Indonesia adalah ciri paranoid yang melekat pada kulturnya. Paranoia sendiri adalah sebuah ciri personalitas yang takut berlebihan terhadap masa depan dan kemungkinan-kemungkinan yang terdapat di dalamnya. Paranoia menolak ciri ketidakpastian realitas. Jika mungkin semua hal di muka bumi haruslah dapat dikontrol. Rasa nyaman berakar pada kontrol tersebut.

Ketika Anda kehilangan kendali, maka semuanya akan menjadi berantakan. Kehilangan kendali dan kemudian merespon dengan emosi dan tindakan yang merusak. Akibatnya, konflik tidak bisa dihindari. Orang paranoid adalah seseorang yang akan berusaha keras untuk mengendalikan realitas. Hal yang sama berlaku untuk negara paranoid. Namun siapa atau apa yang sesuatu yang fana di muka bumi ini yang mampu mengendalikan sepenuhnya masa depan realitas?.

Maka dari itu tidaklah mengherankan bahwa Belanda, dengan jumlah dan populasi yang sangat kecil, mampu menjajah kita selama lebih dari 300 tahun. Dengan bersaing satu sama lain, mereka memanfaatkan sifat paranoid bangsa Indonesia secara efektif. Akibatnya, konflik internal pun terjadi. Berbagai eksposur terhadap krisis sosial yang sedang terjadi saat ini juga dapat dikaitkan dengan sifat paranoid yang kita miliki sebagai bangsa.

Asas praduga tak bersalah lenyap di hadapan gosip dan himpitan media massa. Yang terakhir ini nyata sekali dalam pemberintaan berlebihan kasus Antasari di media massa beberapa waktu lalu. Hukum terjepit oleh paranoia yang secara langsung dikembangkan oleh media. Prinsip-prinsp dasar hukum untuk menjamin keadilan pun seolah lenyap tak berbekas. Ini adalah jelas ciri paranoia pencipta massa.

Pendidikan dan Televisi

Rhenald Kasali tepat sekali ketika mengatakan, bahwa yang pertama-tama harus diubah di bangsa ini adalah core belief-nya. Dan ujung tombak untuk mengubah core belief bangsa ini adalah pendidikan dan televisi (Kasali, 2009). Wacana pendidikan untuk menghancurkan ciri paranoia dan massa sudah banyak dikembangkan. Yang diperlukan adalah praktek yang konsisten dengan wacana tersebut. Tetapi bagaimana dengan televisi?.

Televisi adalah penyebar gagasan paling efektif saat ini. Masalahnya, ide-ide yang disebarluaskan seringkali merupakan ide-ide yang justru melestarikan paranoia dan karakteristik massa yang sudah mendarah daging di bangsa kita. Bukannya menjadi instrumen untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, televisi justru menjadi pelindung budaya paranoia. Sudah saatnya industri media, khususnya media televisi, mulai memikirkan kembali paradigma yang mereka gunakan dalam operasinya.

Jangan sampai televisi membuat bangsa ini semakin tersesat, karena tertekan oleh pencarian uang tak terbatas dan fanatisme agama tertentu. Kalau begitu, mungkin bangsa Indonesia saat ini tidak jauh berbeda dengan Kerajaan Romawi 2000 tahun silam. yaitu massa yang ingin terus dipuaskan dengan hiburan sesaat, perang, agresivitas, kekuasaan, dan seks tanpa batas. Kemana semua itu akan membawa kita? Jawabannya tidaklain: kehancuran.

Wattimena, Reza A.A. 2010. Filsafat Perselingkuhan sampai Anoreksia Kudus. Jakarta: Evolitera.