Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Menjadi Bangsa Demokratis Otentik ala Socrates

Menjadi Bangsa Demokratis Otentik ala Socrates

Dahulu kala hiduplah seorang bernama Socrates. Ia dianggap sebagai salah satu tokoh paling kontroversial di dalam sejarah filsafat. Ia di lahirkan di Athena, dikenal sebagai orang yang berbudi baik, jujur, dan adil. Socrates menjalani sebagian besar hidupnya di alun-alun dan pasar-pasar untuk berbicara dengan orang-orang yang di temuinya disana.

Cara penyampaian pemikirannya kepada orang-orang terutama pemuda ia menggunakan metode tanya-jawab, oleh sebab itu ia memperoleh banyak simpati dari para pemuda di negerinya. Namun ia juga kurang disenangi oleh orang banyak dengan menuduhnya sebagai orang yang merusak moral pemuda di negerinya.

Bahkan di masa hidupnya dia dianggap agak membingungkan, dan tak lama setelah kematiannya dia dianggap sebagai pendiri sejumlah aliran filsafat yang berbeda-beda. Kenyataan bahwa dia begitu penuh teka-teki dan membingungkan telah memungkinkan berbagai aliran pemikiran yang berlainan untuk menyatakan dia sebagai pendirinya.

Kehidupan Socrates hanya dapat kita ketahui melalui tulisan-tulisan Plato, yaitu salah seorang muridnya dan yang menjadi salah satu filosof terbesar sepanjang masa. Plato menulis sejumlah dialog atau diskusi-diskusi yang didramatisasi mengenai filsafat, dan dia menggunakan Socrates sebagai tokoh utama dan juru bicaranya. Kisah singkat hidupnya tertulis di dalam berbagai dialog yang dibuat oleh Plato. Apa yang bisa kita pelajari dari Socrates?

Hukuman Mati Socrates

Socrates menyatakan bahwa setiap orang harus menggunakan akal budinya secara jernih untuk membuat keputusan, dan menjauhkan diri dari emosi-emosi yang tidak teratur. Dan yang kedua Socrates mengajak kita untuk tidak selalu mengacu pada apa yang menjadi pendapat umum, tetapi berusaha mencari sendiri apa yang benar.

Pada masa hidupnya Socrates dianggap sebagai pemberontak yang meracuni pikiran anak muda. Ia pun ditangkap dan dihukum mati oleh pemerintah Athena pada masa itu. Socrates sebenarnya memiliki kesempatan untuk melarikan diri, namun ia tidak melakukannya. Ada tiga argumen yang diajukannya. (Frankena, 1973)

Pertama orang tidak boleh melukai sesamanya. Jika Socrates melarikan diri, maka ia akan melukai pemerintah Athena, karena tindak melarikan diri merupakan pelanggaran berat terhadap hukum Athena. Kedua tindakan melarikan diri adalah tindakan melanggar perjanjian. Hal ini tidaklah boleh dilakukan. Orang harus menepati janji, apapun konsekuensinya. Ketiga bagi Socrates, masyarakat dan negara itu bagaikan orang tua dan guru. Maka orang tidak boleh menentang masyarakat dan negara tempat mereka tinggal.

Ada tiga prinsip yang bisa kita pelajari dari cara berpikir Socrates, yakni kita tidak boleh melukai siapapun, kita harus menepati janji, dan kita harus menghormati orang tua maupun guru. Jika Socrates melarikan diri, maka ia telah melukai masyarakat, melanggar perjanjian, dan melecehkan negara dan masyarakat yang merupakan figur orang tua dan guru. Ia memilih untuk patuh.

Belajar dari Socrates

Socrates menawarkan cara berpikir paling tua mengenai otentisitas di dalam kehidupan publik. Ia mengajarkan kita untuk hidup berdasarkan prinsip-prinsip yang jelas, dan menerapkannya dengan kejernihan pikiran yang nyata. Ia tidak mengklaim mendapatkan prinsip-prinsip itu dari Tuhan atau dari ajaran masyarakat, tetapi dari keberanian untuk berpikir sendiri.

Ada tiga hal yang kiranya untuk bisa sungguh otentik di dalam kehidupan politik. Yang saya maksud politik bukan hanya sepak terjang soal kekuasaan parlemen ataupun presiden saja, tetapi semua bentuk aktivitas yang melibatkan kehidupan bersama.

Pertama adalah keberanian. Di tengah kehidupan bersama yang terus berubah, dan praktek politik praktis yang penuh dengan tipu muslihat, orang harus berani dan besar hati hidup di dalamnya. Ia harus menganggap kesulitan dan tantangan sebagai kesempatan. Itulah yang dilakukan oleh Socrates.

Kedua orang harus rela dan setia hidup dalam kesepian. Otentisitas mengandaikan keberanian untuk berbeda pendapat. Dan biasanya orang yang berbeda pendapat sering merasa kesepian. Kesepian itu muncul dari perasaan kurang dihargai ataupun dimengerti oleh kelompoknya. Kesepian itu pulalah yang kiranya bercokol di hati Socrates, ketika ia hendak dihukum mati. Kesepian haruslah dihadapi dengan keberanian. Dua hal itu selalu diandaikan, ketika orang memutuskan untuk menjadi otentik. Tanpa keduanya orang cenderung untuk konformis. Ia cenderung menyesuaikan diri dengan keadaan, main aman, dan bermental pengecut.

Ketiga adalah keberanian untuk berpikir sendiri. Semboyan utama Enlightment Eropa adalah berani untuk berpikir sendiri. Banyak orang di dalam masyarakat kita menyerahkan keputusan-keputusan penting di dalam hidup mereka kepada otoritas tertentu, baik di bidang budaya ataupun agama. Akibatnya mereka tidak mampu berpikir sendiri. Ketidakmampuan itu bukan berasal dari lemahnya akal budi atau IQ yang jelek, melainkan dari ketidakberanian.

Membongkar Penjara Pikiran

Sebagai bangsa yang masih tertatih-tatih untuk mewujudkan iklim demokratis, ada baiknya kita belajar dari Socrates. Masalah utama bangsa ini bukanlah terletak pada sistem ataupun institusinya, tetapi pada orang-orang yang hidup di dalam sistem dan insitusi itu. Socrates mengajarkan kita untuk hidup berani, yakni berani untuk memiliki pendapat sendiri, berani untuk kesepian, dan berani untuk bertindak berdasarkan hati nurani sendiri. Satu-satunya yang menghambat itu semua adalah mental pengecut yang sudah menjadi penjara pikiran kita.

Langkah awal yang tepat di dalam membentuk masyarakat demokratis bukanlah membuat Pemilu dengan dana raksasa yang cenderung tidak efektif, melainkan dengan membongkar penjara pikiran yang ada di dalam masyarakat, maupun anggota-anggotanya. Penjara pikiran yang paling jelas adalah ketakutan untuk berpikir sendiri, karena takut dianggap pemberontak oleh lingkungan sekitar. Sudah saatnya bangsa kita berani menjadi otentik, baik sebagai individu maupun sebagai bangsa. Mentari kebebasan ada di penghujung hari mereka yang berani untuk hidup otentik.