Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Relasi antara Fitrah Manusia dan Realitasnya

Relasi antara Fitrah Manusia dan Realitasnya

Jika berbicara tentang manusia tentunya di dalam diri manusia terdapat potensi yang harus manusia itu sadari. Potensi tersebut terbagi menjadi tiga yaitu yang berkaitan dengan karakter atau watak, naluri atau insting, dan fitrahnya sendiri.

Watak manusia berkaitan dengan sifat dasar yang dimiliki juga oleh tumbuhan, dan hewan. Artinya adalah dalam diri manusia yang dikenal dengan watak mereka erat kaitannya dengan hal-hal yang mendasar yaitu sifatnya alamiah pada makhluk hidup.

Kemudian Naluri, naluri pada manusia lebih dominan dalam hal yang bersifat materi. naluri ini tidak pernah lepas dari makhluk hidup baik itu manusia ataupun hewan. Seperti yang kita ketahui bahwa naluri ini terbatas pada hal hal yang hanya mampu di jangkau oleh panca indra.

Naluri juga merupakan sesuatu yang sangat mudah untuk melemah. Artinya adalah ketika orientasi naluri ini telah tercapai maka dengan cepat makhluk tersebut merasakan rasa puas, dan ketika ia sudah terpuaskan, alhasil nalurinya mulai meredup. Akan tetapi untuk sampai pada orientasi naluri tersebut, tidaklah terlepas dari yang namanya usaha.

Fitrah Manusia

Fitrah adalah hal yang transendental, yaitu yang berkaitan langsung dengan sifat kemanusiaan itu sendiri dan tidak ada hubungannya dengan makhluk lain. Berkenaan dengan fitrah manusia yaitu tentang kecenderungan. Kita sebagai manusia haruslah cenderung kepada hal hal yang bersifat kebenaran, maka dari itu fitrah dapat menuntun kita pada sebuah keinginan yang bersifat Pasti. Akan tetapi jika berbicara masalah kebenaran, mungkin itu di luar dari pembahasan ini.

Fitrah ini juga terkait dengan kesadaran diri manusia, dimana fitrah manusia disebut sebagai potensi yang terkandung di dalam dirinya, yang kemudian membagi fitrah manusia menjadi beberapa bagian, diantaranya kesadaran akan ilmu, kesadaran tentang ibadah, kesadaran tentang kerinduan dan masih banyak lagi.

Sama halnya dengan naluri, Fitrah manusia juga haruslah terpenuhi. mengapa ? karena aspek material ini membawa kita pada hal-hal transendental, artinya material ini menjadi dasar untuk melakukan proses menuju sisi kemanusiaan kita.

Saya ambil analogi terkait itu bahwa kita hanya menginginkan hal-hal material untuk aktualisasi potensi, dimana kita memiliki orientasi untuk sampai pada tujuan kita yaitu Makassar misalnya. Orientasi kita ke Makassar pasti memerlukan beberapa syarat yang ilmiah.

Salah satu syarat ilmiahnya adalah masalah ekonomi, artinya bila tidak memenuhi syarat ekonomi (dalam hal ini uang) bagaimana kita bisa sampai pada orientasi kita?. Tentunya untuk sampai pada orientasi kita tidak lepas dari hal-hal ilmiah seperti itu sebagai penunjang orientasi kita.

Terkait kesadaran manusia, itu bukanlah sesuatu dari luar yang mengintervensi, tetapi kita menyebut kesadaran ini sebagai sesuatu yang hadir atau huduri pada diri manusia, dimana kita berusaha untuk melihat apa yang sebenarnya diinginkan oleh fitrah kita dan dengan cara apa yang harus kita lakukan untuk mewujudkan fitrah kita.

Dalam hal tersebut maka kita tidak bisa lepas dari yang namanya epistemologi, yaitu cara berpikir filsafat tentang segalah dasar dasar pengetahuan.

Jadi dapat disimpulkan terkait dengan fitrah, bahwa ia masih dalam cakupan kesadaran pada manusia, dimana kesadaran ini masih bersifat subjektif. Kemudian untuk mencari hal yang objektif, tentu kita berbicara tentang epistemik dan cara apa yang kita gunakan untuk sampai pada aktualisasi fitrah ini, karena kita melihat bahwa segala sesuatu yang ada pada manusia memiliki cara untuk sampai pada orientasinya. .

Karena bersifat subjektif maka fitrah manusia merupakan suatu yang universal. Jadi setiap individu haruslah mencari apa yang menjadi tuntutan fitrahnya terhadap realitas yang bersifat par-tikular. Namun bericara tuntutan fitrah manusia, bukanlah membicarakan masalah baik dan buruk karena fitrah itu sendiri adalah sesuatu yang suci.

Jika berbicara tentang baik dan buruk, itu ada dalam realitas kita ketika kita membuat hubungan antara fitrah dan realitas itu sendiri, artinya baik dan buruknya itu dapat di nilai ketika fitrah manusia terealisasikan dalam realitasnya. Namun untuk menilai itu baik atau buruk, tergantung dasar epistemologi. Karena yang membuka ruang atau mengarahkan fitrah kepada realitas itu adalah epistemologi itu sendiri. Maka sebab itu realitas memberikan objektivitasnya atas dasar relasi.