Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Psikopatologi Sigmund Freud: Masa Kanak-kanak dan Ingatan yang Tersembunyi

Psikopatologi Sigmund Freud: Masa Kanak-kanak dan Ingatan yang Tersembunyi

Pikiran atau ingatan kita mampu bertindak dengan tujuan atau motif tertentu yang tidak kita sadari dalam kaitannya dengan hal-hal yang selama ini tidak kita duga sama sekali. Saya akan mulai dari sebuah fakta yang menarik bahwa ingatan seseorang tentang masa kecilnya seringkali berisi hal-hal yang tampaknya tidak penting dan kebetulan semata, dan bahkan pikiran orang dewasa (seringkali tapi tidak selalu) seringkali sudah melupakan kesan- kesan yang sangat mendalam yang terjadi pada masa kecil.

Seperti yang sudah diketahui bahwa ingatan manusia menggunakan metode tertentu untuk menseleksi kesan kesan yang diterimanya, maka tampaknya masuk akal jika kita memperkirakan bahwa ketika masih kanak seleksi ini terjadi dengan prinsip-prinsip yang sangat berbeda dengan ketika orang mencapai kematangan intelektual. Namun ketika diteliti lebih lanjut, didapati bahwa asumsi seperti ini tidak diperlukan bagi pemahaman kita mengenai masalah ini.

Kenangan masa kecil yang dimiliki seseorang yang sudah dewasa tampaknya seolah tidak penting atau tidak memiliki hubungan yang jelas dengan pola pikir orang itu karena kenangan masa kecil itu telah mengalami proses pergeseran. Dengan melakukan psikoanalisis, bisa dibuktikan bahwa kenangan-kenangan masa kecil yang tampaknya tidak penting itu sebenarnya adalah topeng yang menutupi atau menggeser kenangan-kenangan masa kecil lainnya yang sangat berkesan bagi orang itu, namun kenangan kenangan masa kecil yang penting atau berkesan ini tidak dapat direproduksi atau diingat kembali karena ada penolakan atau represi tertentu yang terjadi dalam pikiran.

Maka, karena kenangan-kenangan masa kecil yang tidak berkesan ini hadir dalam ingatan bukan karena makna yang dikandungnya sendiri melainkan karena kenangan- kenangan yang tidak berkesan itu memiliki hubungan atau asosiasi dengan kenangan-kenangan yang berkesan yang terrepresi tadi, maka kenangan-kenangan yang tidak berkesan ini dapat saya sebut sebagai “kenangan penyamar” karena kenangan-kenangan ini menyamarkan atau menutupi kenangan-kenangan lain yang sebenarnya lebih berkesan.

Dalam penjelasan yang saya sebutkan di atas, saya telah menyinggung secara sepintas beberapa jenis hubungan dan makna dari kenangan penyamar. Dalam contoh yang telah saya analisis secara menyeluruh dalam esai saya tersebut, saya menunjukkan adanya sebuah aspek yang menarik, yaitu bahwa ada hubungan temporal (waktu) antara ingatan penyamar dengan isi dari kenangan yang disamarkan atau disembunyikan.

Maksudnya, kenangan yang disembunyikan oleh kenangan penyamar dalam contoh yang saya sajikan di dalam esai saya tersebut berasal dari tahun- tahun pertama masa kecilnya, sementara pikiran-pikiran yang disembunyikan oleh kenangan itu—yang berada dalam pikiran tanpa disadari oleh orang itu—berasal dari tahun-tahun setelahnya. Saya menyebut bentuk pergeseran semacam ini sebagai pergeseran retroaktif atau pergeseran regresif.

Mungkin yang lebih sering kita temukan adalah hubungan yang terbalik, yaitu kenangan yang tidak berkesan dari masa kanak-kanak menjadi ingatan penyamar dan kenangan yang tidak berkesan ini muncul di pikiran sadar karena ia memiliki hubungan asosiasi dengan pengalaman berkesan yang terjadi sebelumnya, yang tidak bisa diingat secara sadar karena telah terjadi represi tertentu.

Kenangan penyamar seperti ini saya sebut sebagai kenangan penyamar yang mengambil alih atau yang menutupi kenangan yang berkesan tadi, di mana kenangan- kenangan yang berkesan itu terletak di belakang atau tertutupi oleh kenangan penyamar. Yang terakhir, kita juga bisa menemui kemungkinan kasus ketiga, yaitu bahwa kenangan penyamar itu bisa jadi tidak hanya memiliki keterkaitan makna dengan kenangan yang disamarkannya, tetapi juga terjadi pada saat yang berdekatan di masa lalu. Kondisi seperti ini saya sebut sebagai kenangan penyamar yang terjadi secara bersamaan atau berdempetan.

Dengan sendirinya akan muncul pertanyaan: seberapa besar bagian dari keseluruhan ingatan kita yang masuk dalam kategori ingatan penyamar, dan seberapa besar yang masuk dalam kategori ingatan yang disamarkan. Namun di sini saya tidak akan membahas apakah pertanyaan ini benar-benar penting untuk ditanyakan. Dalam kesempatan ini saya hanya akan membahas mengenai kemiripan antara proses terjadinya kelupaan nama dengan kesalahan dalam mengingat dan dengan terbentuknya ingatan penyamar.

Jika kita lihat secara sambil lalu saja, maka tampaknya dua fenomena ini (yaitu kelupaan nama dan kesalahan mengingat yang ditimbulkan oleh terbentuknya ingatan penyamar) sangat berbeda satu sama lain. Kelupaan tampaknya lebih terkait dengan nama sementara kesalahan dalam mengingat tampaknya lebih terkait dengan kesan yang ditimbulkan oleh pengalaman atau oleh alur pemikiran tertentu.

Selain itu, kelupaan tampaknya adalah lebih merupakan sebuah kegagalan dari fungsi ingatan sementara kesalahan mengingat bukan merupakan sebuah kegagalan melainkan lebih merupakan sebuah penyimpangan yang aneh dari proses kerja ingatan kita.

Dan lagi, kelupaan adalah sebuah gangguan pada proses ingatan kita yang terjadi secara sementara saja—sebab nama yang terlupakan itu telah dapat dengan mudah kita ingat pada beberapa ratus kali kesempatan sebelumnya— dan besok masih tetap dapat kita ingat lagi, sementara di sisi lain sekalipun kita mengalami kesalahan dalam mengingat namun ingatan itu tetap ada dan tidak pernah lenyap, sebab kenangan- kenangan masa kecil yang tidak berkesan tampaknya tidak pernah lenyap dari dalam pikiran kita sepanjang hidup kita mulai dari kecil sampai kita dewasa.

Maka jika dilihat secara sepintas, dua jenis kasus ini tampaknya memerlukan dua jenis pemecahan yang berbeda: di satu sisi masalah yang kita hadapi adalah pertanyaan mengapa terjadi kelupaan sementara di sisi lain yang kita hadapi adalah pertanyaan mengapa justru kenangan-kenangan yang tidak berkesan itu yang hadir dalam pikiran sadar kita.

Namun jika kita merenungkannya lebih mendalam, maka akan kita sadari bahwa sekalipun di antara kedua fenomena ini ada perbedaan materi psikis dan perbedaan dalam durasi waktu, namun perbedaan-perbedaan ini masih jauh lebih kecil daripada persamaan-persamaan yang bisa kita dapati di antara keduanya.

Pertama-tama, kedua fenomena ini sama sama merupakan bentuk dari kegagalan dalam mengingat, di mana apa yang seharusnya dimunculkan dengan benar oleh ingatan ternyata tidak dapat muncul dan malah digantikan oleh hal lain yang tidak ingin kita ingat kembali (yaitu nama atau kenangan pengganti).

Ketika seseorang melupakan sebuah nama, maka ingatannya masih tetap berjalan, sebab dia masih dapat mengingat hal lain sekalipun hal itu bukan yang ia maksud. Kenangan penyamar hanya bisa terbentuk jika kesan-kesan yang sebenarnya berkesan dapat dilupakan. Dalam kedua fenomena ini sama-sama terjadi intervensi atau gangguan, hanya saja dengan bentuk yang berbeda pada tiap-tiap fenomena.

Dalam kasus kasus kelupaan nama, orang yang lupa masih tetap dapat merasakan bahwa nama pengganti itu bukanlah nama yang ia maksudkan, sementara dalam kasus-kasus kenangan penyamar, orang yang merasa bahwa kenangan masa kecilnya tak berkesan menjadi terkejut ketika mendapati bahwa di balik kenangan- kenangan yang tidak berkesan itu ternyata ada bermacam kenangan lain yang lebih berkesan.

Maka jika setelah melakukan analisis psikologis kita dapat menunjukkan bahwa terbentuknya nama pengganti atau kenangan pengganti di dalam kedua jenis fenomena ini memiliki proses kerja yang sama—yaitu bahwa keduanya sama-sama terjadi karena proses pergeseran yang dibantu oleh adanya hubungan-hubungan luar antara nama atau ingatan yang digeser dengan nama atau ingatan yang menggeser—maka kita dapat menyimpulkan bahwa keanekaragaman materi, perbedaan- perbedaan durasi waktu dari kelupaan atau kesalahan ingatan dan perbedaan-perbedaan dalam titik pusat dari materi yang terlupakan atau salah diingat itu sebenarnya didasarkan pada satu prinsip yang sama yang berlaku secara umum, yaitu bahwa terhenti atau melesetnya fungsi ingatan itu merupakan pertanda dari terjadinya kecenderungan untuk mengedepankan kenangan yang satu dan menindas kenangan yang lainnya.

Masalah tentang kenangan masa kecil ini menurut saya sangat penting dan menarik sehingga saya kira tidak ada salahnya jika berikut ini saya mengembangkan lebih lanjut apa yang tadi sudah disimpulkan.

Sampai seberapa jauh ingatan kita dapat menyimpan kenangan-kenangan dari masa lalu? Saya sudah membaca beberapa penelitian terhadap masalah ini yang dilakukan V. Henri dan C. Henri7 serta yang dilakukan Potwin.

Dari penelitian yang mereka lakukan didapati bahwa antara orang yang satu dengan orang yang lain terdapat perbedaan besar dalam kemampuan mereka mengenang masa lalu. Beberapa orang dapat mengingat apa yang terjadi ketika mereka masih berusia enam bulan, sementara beberapa yang lain hanya dapat mengingat apa yang terjadi ketika mereka berusia enam atau delapan tahun.

Tetapi apakah ada hubungan antara berbagai perbedaan kemampuan dalam mengenang masa kecil ini dan bagaimana kita harus menafsirkan perbedaan-perbedaan kemampuan ini? Tampaknya, data untuk meneliti masalah ini tidak bisa didapatkan hanya dengan mengajukan pertanyaan saja, melainkan jawaban-jawaban terhadap pertanyaan itu harus diteliti kembali bersama-sama dengan orang yang telah memberikan informasi itu.

Saya berpendapat bahwa kita menerima begitu saja ketidakmampuan kita untuk mengenang masa kecil kita— maksud saya masa-masa ketika kita masih bayi—sehingga kita menganggapnya sebagai sesuatu yang bukan merupakan sebuah teka-teki.

Namun di sisi lain, kita perlu memerhatikan bahwa bahkan anak yang berumur empat tahun sekalipun sudah mencapai tingkat kemampuan intelektual yang tinggi dan pola- pola emosi yang rumit. Maka seharusnya kita mempertanyakan lagi mengapa ingatan dari orang yang sudah dewasa tidak mampu mengenang kernbali proses-proses psikis yang telah berkembang dengan begitu pesat ketika dia berusia empat tahun, apalagi kita telah mengetahui bahwa kegiatan-kegiatan atau kejadian-kejadian masa kecil ini sebenarnya tak lenyap begitu saja dari ingatan ketika seseorang tumbuh dewasa, melainkan meninggalkan jejak-jejak yang membawa pengaruh besar sampai akhir hayat.

Yang aneh adalah bahwa kenangan-kenangan masa kecil ini memiliki peran yang begitu penting namun begitu mudahnya terlupakan! Dari sini dapat kita perkirakan bahwa ada kondisi-kondisi tertentu dalam pikiran (yang berperan besar terhadap daya ingat kita) yang selama ini ternyata sama sekali belum kita ketahui keberadaannya.

Maka bukan tidak mungkin bahwa dengan memahami kelupaan terhadap kenangan masa kecil, kita dapat membuka jalan untuk memahami amnesia-amnesia, yang menurut penelitian-penelitian terbaru, merupakan dasar dari pembentukan semua gejala neurosis.

Dari semua kenangan masa kecil yang masih dapat kita ingat secara sadar, beberapa di antaranya dapat kita pahami dengan mudah, sementara beberapa yang lainnya terasa sangat aneh atau tidak dapat kita mengerti. Biasanya kedua jenis kenangan seperti ini mengandung banyak kesalahan dan ada beberapa kesalahan tertentu yang tidak sulit untuk dikoreksi.

Jika kita menganalisis kenangan- kenangan yang dimiliki seseorang, maka kita akan dapat melihat bahwa ketepatan dari kenangan itu tidak dapat dipastikan. Beberapa dari gambar-gambar kenangan itu telah mengalami perubahan atau ditampilkan dalam pikiran secara tidak lengkap atau telah mengalami pergeseran waktu dan tempat.

Ketika seseorang yang sedang diteliti kenangan-kenangannya menyatakan bahwa mereka masih ingat kejadian-kejadian yang mereka alami ketika mereka berumur dua tahun, kita dapat langsung menyimpulkan bahwa pernyataan itu tidak dapat diandalkan. Kita bisa dengan cepat menemukan motif- motif yang mampu menjelaskan mengapa terjadi pemotongan atau pergeseran terhadap pengalaman-pengalaman ini.

Dari situ akan tampak bahwa kesalahan-kesalahan ingatan ini tidaklah diakibatkan oleh kelemahan daya ingat semata, melainkan ada faktor-faktor dari masa kehidupan selanjutnya yang telah memengaruhi kemampuan seseorang dalam mengingat pengalaman-pengalaman masa kecilnya dan bukannya tidak mungkin faktor-faktor ini pulalah yang membuat kenangan kenangan masa kecil itu menjadi terasa begitu aneh ketika kita mengingatnya kembali.

Kenangan-kenangan orang yang sudah dewasa, seperti yang sudah diketahui, tersaji dalam bentuk yang berbeda-beda. Beberapa orang mengingat masa kecil mereka dalam bentuk gambar visual sementara beberapa orang lainnya bahkan tidak mampu mengingat sketsa yang kasar sekalipun dari pengalaman-pengalaman mereka. Maka jika Charcot menyebut orang-orang yang memiliki daya ingat visual yang kuat ini sebagai “visuels” maka saya akan menyebut orang-orang yang memiliki daya ingat visual yang sangat lemah ini sebagai “auditifs” dan “moteurs.” 

Perbedaan kemampuan dalam memvisualisasi kenangan tidak berlaku dalam mimpi; semua mimpi kita selalu bersifat visual. Tetapi sifat visual ini juga berlaku secara umum bagi ingatan anak-anak, hanya saja ingatan anak kecil lebih plastis dan visual sekalipun setelah mereka tumbuh dewasa, daya visual ingatan mereka menjadi sangat lemah. Maka ingatan secara visual merupakan sesuatu yang sudah ada sejak kanak-kanak pada diri semua orang. Hanya ingatan dari masa kanak-kanak saya yang paling awal sajalah yang sepenuhnya berkarakter visual, yaitu yang berupa adegan adegan yang digambarkan secara plastis, yang bisa diumpamakan seperti sebuah panggung sandiwara.

Dalam adegan-adegan masa kanak-kanak seseorang, baik yang terbukti benar terjadi maupun yang tidak, diri orang itu sendiri biasanya ikut hadir di dalam kenangan masa kecil itu dalam bentuk kontur dan pakaian. Ini sangat menarik untuk kita telaah lebih lanjut, sebab dalam kenangan masa dewasa, diri orang itu biasanya tidak ikut hadir di dalam kenangan itu.

Terlebih lagi, pengalaman kita menunjukkan bahwa anak kecil tak semata-mata memerhatikan dirinya dengan mengabaikan kesan-kesan dari luar ketika dia sedang mengalami sesuatu. Ada beberapa faktor yang membuat saya berkesimpulan bahwa kenangan-kenangan masa kecil ini bukanlah jejak-jejak ingatan dalam artian yang sesungguhnya, melainkan jejak-jejak ingatan yang sudah mengalami pengolahan, di mana pengolahan ini sangat dipengaruhi oleh gejolak-gejolak psikis yang terjadi ketika orang itu tumbuh dewasa.

Maka apa yang disebut sebagai “kenangan masa kecil” tadi dapat dianggap sebagai semacam “kenangan penyamar” yang sudah saya paparkan tadi sehingga kenangan-kenangan masa kecil seseorang perlu kiranya dibandingkan dengan kenangan-kenangan masa kecil yang terkandung dalam legenda-legenda dan mitos-mitos yang dimiliki bangsa-bangsa.

Orang yang pernah melakukan pengujian mental terhadap sejumlah orang lewat metode psikoanalisis pastilah banyak contoh kasus kenangan penyamar. Namun, seperti yang sudah disampaikan tadi, kenangan masa kecil terbukti telah banyak dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman masa dewasa, sehingga kasus-kasus kenangan masa kecil yang berfungsi sebagai ingatan penyamar ini sangat sulit untuk ditelaah atau dilaporkan.

Untuk membuktikan bahwa kenangan masa kecil itu sebenarnya merupakan sarana penyamar bagi kenangan lain, kita harus menyajikan seluruh sejarah kehidupan dari orang yang kita teliti itu sebab kenangan masa kecil tidak dapat diteliti atau dilaporkan jika lepas dari konteks, seperti yang digambarkan dalam contoh berikut ini.

Seorang pria berusia 24 tahun memiliki kenangan visual berikut ini sejak berusia 5 tahun: Dalam sebuah taman di rumah peristirahatan musim panas, ia duduk di kursi di dekat bibinya, sementara si bibi mengajari dia membaca alfabet. Ia menemukan kesulitan membedakan huruf m dari n, dan ia meminta bibinya mengajarinya tentang bagaimana caranya membedakan yang satu dari yang lainnya. Bibinya berkata kepadanya bahwa huruf m yang mempunyai satu bagian lebih banyak daripada n. 

Tampaknya tidak ada alasan untuk meragukan kebenaran dari ingatan masa kecil ini, tapi makna sebenarnya dari kenangan ini baru dapat ditemukan setelahnya, ketika terbukti bahwa kenangan ini adalah perlambang dari keingintahuannya yang lain. Sebab pada saat ketika dia ingin mengetahui perbedaan antara m dan n, dia juga sekaligus ingin tahu perbedaan antara anak laki-laki dan perempuan dan dia meminta bibinya untuk mengajarinya.

Setelah dia tahu, perbedaan antara anak laki-laki dengan anak perempuan ternyata mirip seperti perbedaan antara m dan n, yaitu bahwa anak laki-laki memiliki satu bagian yang tidak dimiliki anak perempuan dan ketika ingatannya sampai pada hal ini, muncul kenangan tentang pertanyaan yang ia ajukan kepada bibinya di taman itu.

Izinkan saya menyajikan satu contoh lagi tentang pemahaman yang bisa diperoleh dengan menganalisis pengalaman masa kecil, sekalipun masa kecil itu terasa sangat tidak masuk akal sebelumnya. Ketika saya berusia 43 tahun, saya tertarik untuk meneliti kenangan-kenangan masa kecil saya sendiri dan ada satu kenangan yang saya yakin telah berulang kali muncul dalam pikiran sadar saya. Setelah saya selidiki, saya mendapati bahwa kenangan ini bisa dilacak pada sesuatu yang terjadi ketika saya mendekati usia tiga tahun.

Dalam kenangan itu, saya melihat diri saya berdiri di depan sebuah peti dan saudara tiri saya yang berusia 20 tahun lebih tua dari saya sedang membuka tutup peti itu. Saya berdiri di sana sambil meminta sesuatu dan menangis. Pada saat itu, ibu saya tiba- tiba masuk ke dalam ruangan, seolah-olah tadi ia pergi dan baru saja tiba di rumah. Dia tampak sangat kurus.

Gambaran saya tentang kenangan yang terlihat begitu jelas dalam pikiran saya ini sama sekali tidak memberikan petunjuk. Apakah saudara saya itu hendak membuka atau mengunci peti (yang dalam penjelasan sebelumnya saya sebut sebagai “lemari”), mengapa saya menangis dan apa hubungan antara semua itu dengan kedatangan ibu saya, sama sekali tidak bisa saya jelaskan.

Saya menduga bahwa kenangan saya itu berkaitan dengan sebuah permainan yang dilakukan saudara saya itu untuk menggoda saya, yang tidak jadi dilakukannya karena ibu saya keburu datang. Kesalahpahaman terhadap kenangan-kenangan rnasa kecil seperti ini adalah sesuatu yang sering terjadi. Kenangan yang kita ingat seringkali bukan merupakan titik pusat dari maknanya, sebab kita tidak tahu di bagian mana titik pusat atau penekanan psikis itu terletak.

Setelah melakukan analisis, saya mendapatkan sebuah solusi yang berbeda sama sekali dengan penafsiran awal saya di atas, yaitu bahwa saya sebenarnya sedang mencari-cari ibu saya dan mengira bahwa ibu saya bersembunyi di dalam peri atau lemari itu sehingga saya meminta saudara saya untuk membukanya. Dia menuruti kemauan saya dan membukanya. Ketika ternyata ibu saya tidak ada di dalam peri itu, saya pun menangis. Bagian inilah yang tersimpan di dalam ingatan saya, yang kemudian dilanjutkan dengan kedatangan ibu saya, yang menyelesaikan kegelisahan saya.

Tapi dari mana seorang anak kecil bisa mendapati ide bahwa ibunya sedang bersembunyi di dalam peti? Pada sekitar saat yang sama, saya mengalami mimpi-mimpi tentang seorang wanita yang mengasuh saya ketika masih kecil dan ada beberapa kenangan yang masih tersimpan tentang pengasuh ini, seperti misalnya saya ingat bahwa dia pernah menyuruh saya untuk menyerahkan kepadanya beberapa keping uang yang saya terima sebagai hadiah.

Kenangan ini sendiri tampaknya juga berfungsi untuk menyamarkan beberapa hal lain. Maka saya berusaha mempermudah analisis yang saya lakukan dengan bertanya kepada ibu saya yang sudah tua tentang si pengasuh ini. Ibu saya menceritakan banyak hal, antara lain bahwa sang pengasuh ini pandai menjalankan tugasnya namun mencuri banyak barang ketika ibu saya sedang terbaring setelah melahirkan dan bahwa saudara tiri saya akhirnya membawa dia kepada pihak yang berwajib.

Berdasarkan informasi ini saya mendapatkan petunjuk yang mampu menjelaskan kenangan saya mengenai peti tadi. Setelah pengasuh itu diberhentikan, saya bertanya kepada saudara tiri saya kemana dia pergi. Mungkin saya bertanya kepada saudara saya ini karena saya sempat memerhatikan bahwa dia ikut berperan dalam membuktikan kesalahan si pengasuh.

Saudara saya dengan kecerdikan yang masih tetap dimilikinya sampai sekarang menjawab bahwa si pengasuh “dimasukkan ke dalam kotak.” Pikiran kanak- kanak saya mau menerima jawaban ini dan saya tidak bertanya apa- apa lagi. Ketika ibu saya pergi ke suatu tempat tak lama kemudian, saya menjadi curiga bahwa saudara saya itu telah melakukan hal yang sama kepada ibu saya seperti yang telah ia lakukan kepada si pengasuh sehingga saya memaksa dia untuk membuka peti itu.

Maka sekarang saya mengerti mengapa dalam kenangan visual masa kanak-kanak saya itu, ibu saya tampak sangat kurus. Pada waktu itu saya pasti menduga bahwa dia baru saja keluar setelah terlipat di dalam peti. Saya berusia dua setengah tahun lebih tua dari adik perempuan saya dan ketika saya mencapai usia tiga tahun, saudara tiri saya itu pindah dan tidak lagi tinggal bersama kami.

Freud, Sigmund. 2015. Psikopatologi dalam Kehidupan Sehari-hari. Yogyakarta: FORUM.