Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pemikiran Kiri itu Kafir?

Zaman ini, khususnya di negara kita yang serba darurat ini, istilah "Kiri" menjadi sangat problematis. Kiri selalu dikaitkan dengan kebengisan, cabul, dan tentu saja kafir. Jika ada seseorang yang berbicara mengenai ide-ide Kiri, sudah pasti stigma buruk itu tidak akan terelakan. Orang yang ingin menjadi kiri, misalnya, hanya untuk tampak keren, atau mejadi Kiri sungguhan yang selalu bergulat dengan pemikiran-pemikiran Kiri yang bid’ah, akan terasa sangat sulit. Bisa jadi orang itu malah diasingkan dan bahkan disikat oleh orang-orang fasis. Sehingga tesis Kiri adalah pocong, akan selalu sangat relevan. Kiri akan selalu diposisikan sebagai the other, selalu dimarjinalkan oleh sistem yang berkuasa.

Itu sudah sering terbukti, misalnya untuk menyebutkan beberapa contoh kasus saja, seperti peristiwa pengepungan Gedung YLBHI-LBH Jakarta oleh ribuan massa yang tergabung dari berbagai ormas warisan Orba beberapa tahun lalu dan pembubaran diskusi Sosialis di Surabaya baru-baru ini oleh sekelompok ormas dan aparat. Aksi-aksi pembubaran tersebut merupakan bukti konkret dari kengawuran masyarakat kita dalam memahami istilah Kiri ini, khususnya “Kumunis”. Tentu, hal itu terjadi melalui proses penggelapan sejarah yang panjang oleh Yang Mulia Soeharto sampai saat ini.

Sehingga makna sesungguhnya dari Kiri ini menjadi sangat banal, kabur, karena erat kaitannya dengan dusta yang diinternalisasikan oleh negara ke dalam kesadaran masyarakat, khususnya beberapa ormas Islam warisan Orba, hingga menimbulkan “darurat akal sehat” dan merebaknya hoax. Hujatan tak berdasar seperti, “Kumunis Kafir!”, “Darah Kumunis Halal, Bunuh!”, dan “Kumunis Musuh Allah, Bakar!”, menjadi hal lumrah bagi ormas-ormas Islam warisan Orba. Kengawuran cara berpikir masyarakat kita ini, khususnya dalam memahami istilah Kiri, memang sampai pada satu titik yang “brutal”. Akhirnya “kebrutalan”, baik dalam bentuk preventif atau kekerasan fisik, selalu terjadi dengan sangat mengerikan terhadap minoritas orang-orang Kiri, terutama para korban kekerasan ‘65.

Maka sangat menarik apabila persoalan mengenai Kiri ini ditinjau dari pandangan agama secara sederhana, yakni Islam. Meski barangkali sebagian orang akan beranggapan bahwa hal itu bisa saja tak relevan atau sangat sia-sia. Jika persoalan mengenai term Kiri ini dilihat dari sudut pandang agama karena watak agama yang cenderung dogmatis. Tapi, dogmatisme itu hanya salah satu aspek dari agama yang berlaku dalam level akidah. Berbeda dalam wilayah fiqih atau yurisprudensi dalam Islam yang memungkinkan adanya suatu penafsiran atau pembacaan baru.

Bahkan Ali Syariati mengatakan, “Bahwa agama, terutama bahasa Semit, yang Nabi kita percayai, semuanya simbolis. Bahasa terbaik yang bisa diakses manusia dan lebih unggul dari bahasa ekspositori yang jernih dan lugas” (Sumber: Man and Islam: The free Man and freedom of man).

Begitu juga menurut Alrahman Badawi, seorang filsuf kontemporer asal Mesir, menjelaskan bahwa jika agama menggunakan bahasa ekspositori, lugas dan satu dimensi, ia tidak akan berlangsung lama, karena berkaitan dengan beragam individu dari semua lapisan masyarakat. Individu-individu ini mencakup berbagai strata dan pemikiran yang berbeda. Sehingga bahasa yang dipilih untuk sebuah agama harus berlapis-lapis, multi-dimensi, agar setiap generasi bisa menguraikan lapis demi lapis makna yang terkandung dan setiap individu atau kelompok dapat memahami satu dimensi dalam satu waktu [1]. Mungkin inilah sebabnya mengapa karya sastra simbolis juga bernafas panjang seperti karya Rumi atau Hafiz.

Maka pembahasan atau pembacaan mengenai Kiri yang selalu dipandang angker oleh sebagian masyarakat Islam menjadi dimungkinkan. Apalagi dengan melakukan pembacaan yang sesuai dengan konteks zaman tanpa mengubah prinsip-prinsip dasar agama itu sendiri. Dalam Islam, dikotomi kanan dan Kiri memang sudah sangat jelas. Istilah kanan dalam Islam identik dengan kebaikan atau kebenaran.

Namun, tunggu dulu, baik atau benar dalam arti apa? Dalam arti jika seseorang itu beriman kepada Allah, para malaikat, nabi dan rasul-Nya, serta pada hari kiamat. Kemudian menyempurnakan imannya dengan berbuat baik dan adil sesuai dengan nilai-nilai Islam seperti memberi makan anak yatim-piatu, janda, dan orang miskin. Selalu membela mustadh’afin, dan tentunya tidak korupsi atau mengambil hak-hak orang lain (amal maruf nahi munkar) seperti yang dicontohkan Kanjeng Nabi Muhammad Saw, para sahabat, tabi’in, serta orang-orang alim saleh lainnya, yang semuanya tercakup dalam rukun Islam.

Persoalnnya kemudian, apabila seseorang muslim tidak dapat melakukan semua itu, yang sudah diajarkan dan dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw, apakah ia dapat disebut sebagai seorang muslim sejati? Tentu saja, belum atau tidak dapat dikatakan sebagai muslim sejati. Atau, misalnya, ada seorang muslim yang baik dan saleh, tetapi ia seorang kidal atau "Kiri". Menulis dengan tangan kiri, makan pakai tangan kiri, dan tentunya cebok juga pakai tangan kiri. Apakah karena ia selalu menggunakan tangan kiri, yang dalam Islam sudah jelas selalu mengutamakan yang kanan, maka ia dapat dikatakan tidak Islami? Islamnya kurang sempurna dan karena itu kafir? Belum tentu. Seperti juga "Kiri" yang selama ini dipandang kafir, belum tentu selalu buruk bagi agama, khususnya Islam.

Pengertian kiri secara ketat memang sulit untuk didefinisikan, terutama jika ditinjau dari teori idelogi, misalnya. Namun, untuk mengurangi kebrutalan, secara sederhana "Kiri" merupakan istilah politik yang mengacu pada gerakan sosial-politik yang menuntut perubahan kearah yang setara dan adil dalam berbagai sektor kehidupan masyarakat. Maka dapat dipahami mengapa Kiri selalu melawan sistem ekonomi dan politik yang rakus dan tidak adil.

Orang-orang Kiri selalu memperjuangkan hak-hak rakyat miskin, bersama rakyat miskin, yang selalu diperlakukan tidak adil. Jadi, kiri di sini tidak selalu harus diidentikan sebagai “Kumunis”, tetapi bisa dilihat dari praktik idelogi-politiknya yang senantiasa melawan sistem eknomi-politik yang zalim seperti Kapitalisme. Dengan demikian, sangat sulit dimengerti jika Kiri kerap kali dipandang negatif hingga selalu dipertentangkan dengan agama. Padahal, dalam beberapa hal, kiri sangat kompatibel dengan agama, khususnya Islam. Sebab Kiri selalu memperjuangkan kebenaran dan menegakan kemaslahatan bagi umat manusia. Kiri menjadi negatif jika ia stagnan, dan menjadi sistem yang otoritarian.

Sementara di kalangan NU yang dikenal moderat, istilah kiri untuk sebagian orangnya seperti Gus Dur, bukanlah suatu hal yang mengerikan dan asing. Bahkan banyak para pemuda NU, setelah sepeninggalan Gus Dur, bergulat dengan ide-ide kiri. Sebut saja untuk beberapa orang, seperti Muhammad Al-Fayyadl, Roy Murtadho, Ahmad Sahal, Alissa Wahid, sampai Kalis Mardiasih. Pada masa pemerintahan Soekarno, hubungan NU dengan orang-orang kiri, khususnya PKI, malah sempat harmonis. Hingga sampai meletusnya genosida terhadap orang-orang kumunis dan yang dituduh sebagai kumunis oleh militer di bawah pimpinan Soeharto, menjadi memburuk. Dampak dalam bentuk politisida (genosida politik) tersebut menimbulkan “phobia-kiri” yang ekstrim sampai hari ini. Hingga kiri selalu diidentikan dengan kebengisan, kafir, dan kuminis oleh masyarakat. Padahal, kenyataannya tidak seperti itu. Haji Misbach, Soekarno, dan Tan Malaka adalah seorang kiri tulen dan seorang muslim yang taat.

Hingga beberapa dasawarsa, Gus Dur pun mencoba meretas kedangkalan istilah kiri musuh Allah ini, atau secara khusus memecah kebekuan hubungan eks-PKI dan korban ‘65, dengan tindakan rekonsiliasinya. Gus Dur berusaha menghapuskan TAP MPRS No. XXV/1966, yang melarang Marxisme-Leninisme [2]. Selain karena bertentangan dengan demokrasi, Gus Dur menyadari bahwa pengiblisan kiri, dalam hal ini kumunis, merupakan korban dari kudeta militer di bawah pimpinan Soeharto. Seharusnya, apa yang telah dilakukan Gus Dur dapat membuka babak baru dalam sejarah, khususnya untuk generasi kita saat ini.

Tapi, apa boleh buat, karena kiri itu musuh Allah, maka hanya ada satu kata: Bakar!

Dedi Sahara , Manusia yang ingin belajar.
[1] http://www.iranchamber.com/personalities/ashariati/works/free_man_freedom_man.php
[2] http://m.sntrinews.com/Dirosah/Mujadalah/1139/Masihkah-Meragukan-Maaf-Gus-Dur