Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Pemikiran Filsafat Anaximandros

Pemikiran Filsafat Anaximandros

Anaximandros merupakan filosof Miletos kedua setelah Thales. Anaximandros adalah murid Thales. Ia lebih muda lima belas tahun dari Thales, tapi meninggal dua tahun lebih dulu dari Thales. Anaximandros juga merupakan seorang ahli astronomi dan ilmu bumi.

Anaximandros adalah putra dari Praxiades, dalam literatur Yunani kuno disebutkan bahwa Anaximandros memiliki ikatan kekerabatan dengan Thales, hubungan darah atau keluarga, yaitu Thales merupakan paman dari Anaximandros. Kita dapat mengetahui sejarah Anaximandros melalui tulisan Aristoteles, Apollodorus, atau Diogernes Laertius.

Diogenes pernah menyampaikan bahwa Anaximandros juga pernah menggantikan Thales sebagai kepala sekolah filsafat di Miletos. Menurut Apollodorus seorang penulis Yunani kuno, Anaximandros telah berumur 63 tahun pada saat olimpiade ke-58 yang di laksanakan tahun 547 SM/546 SM. Karena itu, diperkirakan Anaximandros lahir sekitar tahun 610 SM di Miletos.

Menurut tradisi Yunani kuno, Anaximandros memiliki jasa-jasa didalam bidang astronomi dan geografi. Misalnya saja, Anaximandros dikatakan sebagai orang yang pertama kali membuat peta bumi. Usahanya dalam bidang geografi dapat dilihat ketika ia memimpin ekspedisi dari Miletos untuk mendirikan kota perantauan baru ke Appolonia di Laut Hitam. Selain itu, Anaximandros telah menemukan atau mengadaptasi suatu jam matahari sederhana yang dinamakan dengan gnomon. Ditambah lagi ia mampu memprediksi kapan terjadi gempa bumi dan ia menyelidiki fenomena-fenomena alam seperti gerhana, petir, dan juga mengenai asal mula kehidupan.

Meskipun Anaximandros murid Thales, namun ia menjadi terkenal justru karena mengkritik pandangan gurunya. Sebagai filosof ia lebih besar dari gurunya. Menurutnya, bila air merupakan prinsip dasar segala sesuatu, maka seharusnya air terdapat didalam segala sesuatu, dan tidak ada lagi zat yang berlawanan dengannya. Namun kenyataannya air dan api saling berlawanan sehingga air bukanlah zat yang ada didalam segala sesuatu. Karena itu, Anaximandros berpendapat bahwa tidak mungkin mencari prinsip dasar tersebut dari zat yang empiris.

Bagi Anaximandros Apeiron adalah prinsip dasar tersebut. Apeiron berasal dari kata Yunani, ‘A’ yang berarti ‘tidak’ dan ‘eras’ yang berarti ‘batas’. Apeiron adalah zat yang tak terhingga dan tak terbatas dan tidak dapat di rupakan, tidak ada persamaanya dengan apapun. Segala yang kelihatan itu, yang dapat ditentukan rupanya dengan panca indera kita, adalah barang yang mempunyai akhir, yang berhingga. Sebab itu barang asal, yang tidak berhingga, dan tidak berkeputusan, mustahil salah satu dari barang yang berakhir itu. Dari Apeiron inilah berasal segala sesuatu yang ada didalam jagad raya sebagai unsur-unsur yang berlawanan, yang panas dan yang dingin, yang terang dan yang gelap, yang kering dan yang basah, dan sebagainya. Begitulah kesimpulan dasar dari hukum dunia menurut Anaximandros.

Pandangan Anaximandros Tentang Alam.

Sesungguhnya karya berupa tulisan dari Anaximandros hanya sedikit yang masih bertahan hingga sekarang. Lebih banyak memperkenalkan pemikirannya adalah Aristoteles dan Apollodorus. Tulisan yang paling menakjubkan dari Anaximandros adalah pemikirannya mengenai alam, posisi bintang, penelitian geometri, peta Yunani dan juga peta dunia.

Pemikirannya mengenai Alam semesta bahwa segala sesuatu itu muncul dari Apeiron . Aristoteles menuliskan bahwa segalanya memiliki asal atau bahkan ialah asalnya. Tetapi, ketidakterbatasan tidak memiliki asal. Untuk itu dia memiliki batas dan alam semesta tercipta dari ketidakterbatasan.

Pemikiran Anaximandros yang ditulis oleh Aristoteles mengenai yang tak terbatas ini sebenarnya masih belum jelas apa sesungguhnya yang tak terbatas yang dimaksud oleh Anaximandros. Beberapa sumber mengatakan bahwa ini berkaitan dengan pemikiran sebelumnya milik gurunya Thales.

Dengan prinsip Apeiron, ia membangun pandangannya tentang alam semesta. Menurut Anaximandros, dari Apeiron berasal segala sesuatu yang berlawanan, yang terus berperang satu sama lain. Yang panas membalut yang dingin, dari yang dingin itu terjadilah yang cair dan beku, yang beku inilah yang kemudian menjadi bumi. Api yang membalut dingin itu kemudian terpecah-pecah pula, pecahan tersebut berputar-putar kemudian terpisah sehingga terciptalah matahari, bulan, dan bintang-bintang.

Selain itu Anaximandros juga mengemukakan bahwa matahari, bulan, planet-planet, dan bintang-bintang bergerak mengelilingi bumi. Jadi matahari yang terbit di pagi hari adalah matahari yang sama dengan matahari yang terbenam di sore hari dan terbit lagi keesokan harinya.

Bumi dikatakan berbentuk silinder, yang lebarnya tiga kali lebih besar dari tingginya. Bumi tidak jatuh karena kedudukannya berada di pusat jagat raya dengan jarak yang sama dengan semua benda lain. Ia pun menyebutkan bahwa adanya konsep keseimbangan di alam semesta ini sehingga tidak akan jatuh. Konsep inilah yang akhirnya menginspirasi adanya konsep gravitasi dan beberapa konsep dibidang astronomi lainnya.

Mengenai bumi, Thales menjelaskan bahwa bumi melayang diatas lautan, akan tetapi perlu dijelaskan pula asal mula dari lautan itu. Anaximandros kemudian menyatakan bahwa bumi pada awalnya dibalut oleh udara yang basah, karena berputar terus-menerus maka berangsur-angsur bumi menjadi kering. Akhirnya tinggallah laut yang basah itu sebagai laut dibumi.

Padahal seperti yang kita ketahui bahwa kepercayaan bumi ditopang oleh dewa Atlas, salah seorang dewa titan dalam mitologi Yunani amatlah kental. Dengan dobrakan pemikiran Anaximandros yang mulai mempertanyakan kedudukan bumi di alam semesta ini menjadi titik awal untuk meneliti secara mendalam mengenai alam semesta.

Pandangan Anaximandros tentang Makhluk Hidup.

Mengenai kejadian makhluk hidup, Anaximandros berpendapat bahwa pada awalnya dibumi ini diliputi oleh air. Karena itu makhluk hidup yang pertama ada dibumi bukanlah manusia. Karena panas yang ada disekitar bumi, ada laut yang mengering dan menjadi daratan, disitulah mulai bermunculan makhluk- makhluk lain yang naik kedaratan dan mulai berkembang didarat. Ia berargumentasi bahwa tidak mungkin manusia yang menjadi makhluk pertama yang hidup didarat sebab bayi manusia memerlukan asuhan orang lain pada fase awal kehidupannya. Karena itu, pastilah makhluk yang pertama kali yang naik kedaratan adalah sejenis ikan yang beradaptasi didaratan dan kemudian menjadi manusia.

Disini Anaximandros menjelaskan bahwa bumi awalnya hanya berupa lautan, oleh karena itu makhluk satu-satunya yang hidup di bumi adalah ikan. Karena panas matahari, akhirnya sebagian lautan mengering dan menjadi daratan. Makhluk hidup ini (ikan) akhirnya berpindah kedaratan, dan lambat laun mengalami perubahan sampai menjadi sosok manusia yang sempurna.

Manusia adalah suatu bagian dalam dunia ini yang ada setelah dunia dan segala makhluk hidup yang ada, itu dikarenakan tidak mungkin manusia dapat hidup tanpa adanya bahan makanan dan lainnya.

Anaximandros sebagai filsuf alam yang menitikberatkan pada apa yang ia amati di sekitar lingkungannya. Dengan berbagai penjelajahan yang di lakukannya, ia pun menyadari bahwa lautan di bumi ini luas sehingga pastilah bumi dulu masih berupa lautan. Dan pengamatannya terhadap pertumbuhan dan perkembangan manusia membuatnya menarik kesimpulan bahwa bukanlah manusia makhluk pertama yang tinggal dibumi, karena manusia memiliki sifat ketergantungan kepada manusia lain pada fase pertama kehidupannya (bayi).

Pandangan Anaximandros di Bidang Geografi

Anaximandros melakukan penjelajahan dan menemukan sebuah pemukiman yang disebut Appolonia dipesisir Laut Hitam. Di tambah lagi ia adalah orang pertama yang membuat peta.

Peta itu menunjukan bumi berbentuk slinder. Laut Miditerania berada ditengah dan pada ujung utara maupun selatan terdapat lautan. Anaximandros menggambarkan dengan cermat apa yang di laluinya dan menuangkannya ke dalam sebuah peta. Inilah pertama kalinya peta dibuat.

Pandangan Anaximandros Tentang Metorologi

Anaximandros juga termasuk orang yang kritis menanggapi hal-hal yang berhubungan dengan mitos, pengetahuan kuno, bahkan surga dan dewa-dewi Yunani. Seperti yang kita ketahui bahwa Yunani amat kental dengann cerita-cerita dan kepercayaan mengenai dewa-dewinya. Namun sebagai pemikir, Anaximandros mempertanyakan semua hal-hal yang berkaitan dengan kisah mitologi apalagi yang berkaitan dengan alam.

Seperti halnya, Anaximandros mengatakan bahwa petir bukanlah disebabkan oleh dewa Zeuz sang raja dewa yang mengadakan trisulanya atau tongkat petirnya, tapi karena pneuma atau udara yang memadat.

Selain itu Anaximandros menjelaskan juga bahwa hujan berasal dari uap yang dibawa ke atas tepat dibawah matahari. Bukan karena hal yang berhubungan dengan mitologi dan kekuatan dewa. Namun memang ada sebab dan prosesnya yang terjadi secara natural.

Tulisan Anaximandros mengenai cuaca dan bidang meteorologi ini merupakan catatan pertama manusia yang menjelaskan fenomena cuaca berdasarkan pemikiran rasional, bukan dari kepercayaan kuno.

Semua karya Anaximandros di tulis berdasarkan prinsip rasional, bukan sekedar mitos. Sebagai seorang yang rasionalis, Anaximandros menuliskan penelitiannya berdasarkan penelitian geometri dan matematik. Disini juga terlihat jelas perhatian Anaximandros terhadap matematika dan geometri dengan membuat jam matahari dengan berdasarkan perhitungan titik bayang terendah, dan jam tersebut juga dapat dijadikan sebagai penentu arah mata angin.

Noor, Fadlan A.M. 2019. Surat dari Yunani. Gowa: Jariah Publishing Intermedia.