Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Nikotin Agama

Mungkin pembaca disini bertanya mengenai judul di atas, tentang apa itu nikotin agama? Nikotin merupakan senyawa kimia organik yang bertindak sebagai agonis atau senyawa yang meberikan efek tertentu pada sel-sel—di dalam tubuh manusia. 

Contoh, seperti yang terdapat pada rokok; Nikotin di dalam rokok merupakan zat adiktif yang memberikan rasa ketergantungan terhadap para perokok. Ketergantungan yang didapatkan berupa; perubahan perilaku, penggunaan secara eksesif, dan ketergantungan—baik fisik maupun psikologis.

Penulis sengaja mengambil istilah nikotin—disandingkan dengan kata agama, karena menurut saya efek candu atau ketergantungan yang diciptakan oleh nikotin juga persis sama dengan apa yang terjadi pada agama. Namun, sebelum itu, mari kita pahami kembali apa arti dari agama.

Agama adalah suatu sistem—kepercayaan atau peribadatan—kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atau kaidah yang berhubungan dengan budaya, dan pandangan dunia yang menghubungkan manusia dan kehidupan. Sedang dalam KBBI dijelaskan, bahwa agama merupakan suatu sistem yang mengatur—keimanan kepada tuhan, mengatur tata hubungan manusia dan manusia, serta lingkungannya.

Lalu, jika agama merupakan sebuah sistem kepercayaan sementara nikotin adalah sebuah entitas kimiawi yang menyebabkan ketergantungan, lalu apa kaitan antara keduanya?

Sebelum itu, apa yang tengah terjadi saat ini sama seperti apa yang dituliskan oleh Michael Löwy dalam bukunya 'Teologi Pembebasan' tentang kenestapaan kegamaan, yang—merupakan ungkapan kesengsaraan—sekaligus prostes melawan penderitaan; bahwa agama adalah keluh kesahnya makhluk yang tertindas, jantung dari dunia yang tidak punya hati. Singkatnya, agama adalah candu masyarakat.

Ketergantungan dan kepasraan kita atas takdir adalah salah satu contoh dari candu agama tersebut. Melihat situasi dan kondisi saat ini, dari perspektif materialis, sistem penindasan yang tengah kita alami, alih-alih dihadapi dengan bahaduri, ia cenderung dianggap sebagai takdir yang musti pasrah diterima.

Bahkan ada ungkapan yang mengatakan bahwa “Takdir yang dituliskan Tuhan merupakan hal terbaik dalam hidup kita, walaupun terkadang yang terbaik itu tak selalu indah." Ungkapan seperti ini seolah menuntut kita untuk pasrah menerima apa yang terjadi dan meyakini bahwa itu adalah yang terbaik meskipun faktanya itu buruk. Mereka membuat agama menjadi tempat pelarian jika mereka mengalami kesengsaraan.

Padahal jika kita melihat ajaran-ajaran tuhan—dalam hal ini Islam, jelas dikatakan bahwa: “Allah tidak akan akan merubah nasib suatu kaum sebelum dia sendiri yang merubahnya." Mustinya dalil ini dapat kita jadikan padanan dan barometer agar kita terus berusaha untuk merubah nasib kita sendiri, alih-alih berpasrah diri dengan keadaan dan menyerahkan semuanya kepada Tuhan sahaja.

Jika kita meniliki kitab-kitab agama yang ada, saya kira sudah banyak contoh dari revolusi diri seperti ini, agar tidak muluk berpasrah diri laiknya kaum fatalis. Seperti Nabi Yusuf yang ketika masih menjabat sebagai bendaharawan Mesir di masa Akhenatun—berusaha untuk membebaskan para budak dan rakyat miskin dari penindasan kaum bangsawan. Seperti yang dirangkum oleh www.haditv.com bahwa Nabi Yusuf pernah berkata, “Aku akan menurunkan kaum atas, dan mengangkat kaum bawah agar mereka bisa sejajar. Tuhan tidak akan memaafkanku jika aku membiarkan sistem yang menindas ini."

Umar bin Khattab pun pernah berkata, “Aku keluar dari takdir Allah yang satu menuju takdir Allah yang lain." Di sini Umar memberikan perspektif lain bahwa segala sesuatu yang tengah atau akan kita lakukan mungkin adalah bentuk dari takdir. Namun, itu bukan berarti kita musti menerimanya hanya dengan sumarah; jika takdir yang kita rasakan saat ini merupakan bentuk dari penindasan, maka kita seharusnya bangkit berdiri dan merubah takdir itu. Perubahan yang kita lakukan itu pun akan menjadi takdir bagi kita; takdir yang paling tidak lebih baik dari sebelumnya.

Dari apa yang sudah saya uraikan di atas, maka seyogianya kita sadar bahwa pada dasarnya agama tidak menyarankan kita untuk menerima nasib buruk yang menimpah diri kita dan semata-mata menganggapnya sebagai takdir yang sudah ditetapkan tuhan. Sebaliknya, agama justru menyuruh agar kita merubah nasib itu dan mendorong kita untuk keluar dari segala macam bentuk penindasan dengan cara yang tidak hanya sekadar berdoa dan sabar, melainkan harus dengan usaha-usaha yang bersifat meterialis—agar revolusi nasib itu bisa terwujud. 

Olehnya, jangan jadikan agama sebagai candu seperti alkohol yang memabukkan dan menenangkan yang jika kita merasa susah ia dijadikan pelarian, tanpa melakukan effort dan dobrakan yang masif sama sekali.

Moh Fadhel Fikri , Manusia yang berteman dengan sunyi.