Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Kebahagiaan, Fundamentalisme dan Kebebasan

Kebahagiaan, Fundamentalisme  dan Kebebasan

Mengapa setelah lepas dari Orde Baru di bawah Kekuasaan Soeharto yang penuh teror dan ketakutan, Indonesia kembali terjerumus ke dalam berbagai bentuk fundamentalisme, seperti fundamentalisme agama dan uang? Seolah-olah kita sebagai bangsa keluar dari mulut singa, lalu ke mulut harimau. bahasa lainnya, kita meninggalkan satu masalah dan kemudian terjun bebas ke masalah berikutnya, tanpa menyadarinya. Apa sebenarnya akar dari fenomena ini?

Fundamentalisme agama jelas menjadi gejala serius di Indonesia sekarang ini. Berbagai kalangan ingin memaksakan ajaran agamanya untuk diterapkan di seluruh masyarakat. Dasar dasar negara yang bersifat pluralis, terbuka, dan nasionalis kini terancam. Fenomena ini menimbulkan keresahan sosial di berbagai kalangan, terutama kelompok minoritas.

Budak, Rendah Diri dan Abdi

Di dalam gerakan fundamentalisme agama ini, kita bisa menyaksikan dengan jelas satu bentuk mentalitas, yakni mentalitas budak. Mentalitas budak berarti, orang malas atau tidak mau berpikir mandiri, dan menyerahkan keputusan hidupnya pada apa kata kelompok. Dalam hal ini, kelompok itu adalah agama. Orang semacam ini tidak lebih sebagai budak yang rindu untuk dikuasai dan ditaklukan, karena tidak mau berpikir mandiri.

Mental budak terwujud nyata di dalam sikap abdi. Sikap abdi berarti, orang lebih senang disuruh dan diperintah, daripada memutuskan sendiri, apa yang mesti ia lakukan. Orang lebih senang tunduk pada kata orang lain, daripada mempertimbangkan sendiri, apa yang baik dan buruk bagi dirinya. Sikap abdi yang meluas akan menciptakan bangsa budak yang bergantung dan tunduk pada bangsa asing, seperti yang dengan jelas kita lihat di Indonesia sekarang ini.

Di hadapan bangsa asing, kita merasa minder dan rendah diri. Kita merasa, apapun yang orang asing lakukan selalu lebih baik dari yang kita lakukan. Sikap minder, mental budak dan sikap abdi saling terkait satu sama lain. Hasilnya bangsa yang terjajah, walaupun tidak merasa diri terjajah. Bangsa yang rindu untuk dikuasai. Inilah bentuk Indonesia di awal abad 21 ini.

Ciri nyatanya yang serupa yaitu Kita lebih condong untuk memilih barang buatan luar negeri, daripada barang buatan dalam negeri yang jelas-jelas buatan negara tempat dimana kita tinggali, meskipun kualitasnya sama. Ada rasa bangga dan gengsi, ketika kita menggunakan produk luar negeri yang mutunya tak lebih bagus dari mutu produk dalam negeri. Ini adalah contoh kecil dan sangat nyata dari mentalitas budak. sikap abdi dan merasa rendah diri yang menjadi ciri khas Indonesia saat ini. Sifat itu berakar pada kerinduan kita semua untuk dikuasai dan ditaklukkan, karena rasa takut dengan kebebasan dan independensi.

Hegemoni

Bentuk yang paling ekstrim, kita kemudian membenci rakyat kita sendiri. Akar kebencian ini adalah tiga sikap yang disebutkan sebelumnya (rasa rendah diri, abdi, dan budak), yang semuanya didasarkan pada rasa takut akan kebebasan. Saya menyebutnya “trinitas itu tidak suci” yang menjadi musuh kemajuan bangsa kita saat ini. Sebaliknya, kita justru malah bangga menghina menghina bangsa kita sendiri, dan dengan senang hati menyembah bangsa lain, tanpa patokan obyektif.

Kemudian kita menjadi budak yang sombong, yaitu budak yang tidak merasa seperti budak. Kami merasa bahagia, meskipun kami dijajah. Kami merasa lega dan bahagia, meskipun kami adalah hamba yang setia, yang takut untuk berpikir sendiri dan rindu untuk dikendalikan. Ada mekanisme halus di balik semua ini, yaitu kekuatan hegemoni.

Hegemoni adalah salah satu bentuk penjajahan. Alur merasuknya hegemoni sangat halus namun juga masif, sehingga orang yang dijajah tidak merasa dirinya sedang dijajah. Ia merasa dirinya baik-baik saja, bahkan iapun merasa bahagia, meskipun hidup dalam ketergantungan total pada orang lain yang lebih kuat dari dirinya. Hegemoni adalah cara yang menindas untuk membuat budak tetap tertawa bahagia.

Jilat Atas, Injak Bawah

Hegemoni kemudian melahirkan jenis manusia tertentu. Mereka suka menjilat para penguasa, dan menindas yang lemah. Ungkapannya jelas, yaitu jilat ke atas, injak ke bawah. Banyak orang tidak menyukai prinsip ini, meskipun begitu mereka tetap sangat nyata melakukannya. Inilah kekuatan hegemoni yang melahirkan tritunggal najis (mental budak, abdi, dan rasa rendah diri), yang membuat orang malah membenci bangsanya sendiri, dan merasa kasmaran dengan bangsa lain.

Sikap ini tidak lahir dari ruang hampa, tetapi dari situasi budaya tertentu. Untuk Indonesia, kita bisa berbicara tentang kolonialisme yang berlangsung ratusan tahun. Hal itu masih terasa hingga saat ini dalam bentuk sikap buruk yang telah saya uraikan di atas. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa korban penjajahan bukan hanya aset fisik berupa uang dan sumber daya alam, melainkan kehancuran budaya dan mental.

Ketika Sukarno masih menjadi presiden Indonesia, ada upaya untuk membabat habis mentalitas ini. Berbagai organisasi muncul untuk meningkatkan kesadaran akan martabat bangsa. Organisasi itu sangat progresif dan bersifat kiri. Namun, setelah Sukarno lengser, dan Soeharto mulai naik jabatan menjadi presiden, organisasi-organisasi ini dihancurkan, dituduh terkait dengan komunisme. Setelah itu habislah seluruh kekuatan progresif bangsa Indonesia, yang membebaskan bangsa ini dari mentalitas budak, rasa rendah diri dan sikap abdi yang saya uraikan tadi.

Pendangkalan Nilai-nilai

Ketika ini terjadi, nilai-nilai hidup pun menjadi terbalik. Keluhuran hidup ditakar dengan uang dan kepatuhan pada tradisi. Ketika kelompok-kelompok berpikiran maju ditumpas, yang tersisa adalah kelompok-kelompok yang berpikiran terbelakang, yang rindu untuk dikuasai. Yang menguasai kemudian menggunakan uang dan agama untuk mengisi kekosongan sosial yang ada.

Nilai hidup pun terbalik. Kejujuran diganti dengan suap menyuap. Sikap displin diganti dengan sikap masa bodo dan apa saja boleh. Sikap hemat diganti dengan sikap membeli, tanpa batas. Sikap mampu menahan diri diganti dengan sikap mengumbar nafsu dan pencarian kenikmatan tanpa batas. Hidup pun terbalik.

Di balik semua itu, neoliberalisme sebagai paham maut mulai mencengkram kehidupan bersama kita. Neoliberalisme berarti paham yang melihat dunia sebagai satu kesatuan ekonomis, di mana segala sesuatu diukur dengan satu nilai, yakni nilai ekonomi. Keluhuran dipersempit menjadi keuntungan uang. Kedalaman hidup dipersempit menjadi kemampuan untuk mempesona pasar, guna memperoleh keuntungan lebih besar.

Kerinduan untuk Dikuasai

Akar dari semua itu adalah kerinduan untuk dikuasai. Akar dari kerinduan ini adalah ketakutan akan kebebasan. Bentuk kerinduan dan ketakutan ini tertanam dalam dalam jiwa masyarakat Indonesia saat ini. Banyak orang yang tidak menyadarinya, padahal dampaknya begitu nyata dalam kehidupan kita sehari-hari.

Penyebab lahirnya kerinduan dan ketakutan ini sangat panjang. Kita bisa menelusuri kembali ke era penjajahan Eropa yang melanda Asia Tenggara, khususnya Indonesia. Pencurian sumber daya alam dibarengi dengan penghancuran budaya. Yang tercipta kemudian adalah mental budak, sikap abdi dan rasa minder yang sampai sekarang masih terasa dampaknya.

Masa Orde Baru di bawah Suharto juga memperbesar penyakit sosial ini. Penumpasan gerakan-gerakan pro rakyat pada 1965 me­ninggalkan luka dalam bagi bangsa kita. Orang menjadi trauma untuk bersikap kritis dan bersuara keras, demi kepentingan diri dan keluarganya. Yang tersisa adalah kelompok-kelompok religius terbelakang yang sekarang ini jamak kita saksikan di kehidupan bersama sehari- hari.

Menata Perubahan

Berita gembiranya, situasi ini tidak mutlak. Ia bisa diubah. Proses perubahan ini amat bergantung dari kekuatan kehendak kita sebagai bangsa, dan langkah-langkah jitu yang kita ambil. Langkah pertama sebenarnya amat jelas, bahwa kita harus menyadari jejak-jejak penjajahan yang masih berbekas di benak kita sebagai bangsa dalam wujud mentalitas ”tritunggal yang tidak suci”, sebagaimana saya jabarkan sebelumnya. Kesadaran akan hal ini membuahkan keinginan untuk berubah, dan kehendak untuk mulai berproses dalam langkah-langkah panjang perubahan.

Langkah kedua adalah memetakan pola-pola kekuasaan yang membuat bangsa kita tak bebas secara politik maupun ekonomi. Peta pola kekuasaan ini melibatkan politik dalam maupun luar negeri, sekaligus sepak terjang perusahaan-perusahaan internasional maupun nasional di Indonesia. Peta pola kekuasaan ini amatlah penting, sehingga kita bisa tahu harus mulai dari mana di dalam melakukan perubahan. Cita-cita perubahan tanpa peta masalah yang jelas biasanya putus di tengah jalan, atau kehabisan nafas di awal perjalanan.

Langkah ketiga, kita sebagai individu harus berani berpikir mandiri. Kita tidak boleh bergantung pada hal-hal di luar kita, seperti tradisi atau agama. Kita melihat hati nurani sendiri sebagai manusia. kita haruslah menggunakan pikiran dengan bebas dan mandiri untuk mempertimbangkan langkah-langkah dalam hidup yang akan kami pilih.

Ini tentu saja sulit. dari kecil kita sudah diajarkan untuk menyandarkan diri pada tradisi dan agama. Kita tidak dilatih untuk membuat keputusan berdasarkan kebebasan dan akal budi. Kita merasa lebih mudah melempar keputusan dan tanggung jawab ke luar diri kita, baik ke Tuhan maupun ke masyarakat.

Akhirnya, kita tetap menjadi anak kecil, walaupun usia kita sudah tua. Kita tetap tak berani berpikir mandiri. Kita tetap menjadi budak dan abdi dari tradisi. Kita menjadi budak yang bangga dan berbahagia.

Inilah mungkin sebabnya, kita merasa tak berdaya di Indonesia sekarang ini. Di hadapan timbunan kemacetan di ibu kota, kita merasa tak berdaya. Di hadapan korupsi yang menggurita di berbagai daerah, kita merasa tak berdaya. Di hadapan fakta, bahwa setiap detik kekayaan alam kita dikeruk oleh perusahaan asing, kita merasa tak berdaya. Di hadapan fundamentalisme agama, kita juga merasa tak berdaya.

Mau sampai kapan?

Wattimena, Reza A.A. 2015. Bahagia, Kenapa Tidak?. Yogyakarta: Maharsa.