Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Filsafat untuk Kehidupan yang Bahagia

Filsafat untuk Kehidupan yang Bahagia

Banyak diluar sana orang yang masih berpendapat, bahwa belajar filsafat itu sulit, filsafat itu tidak praktis untuk kehidupan. mempelajari filsafat hanya memberikan kita teori-teori abstrak, dan tidak ada hubungannya dengan apa yang kita jalani sehari-hari. karena pendapat seperti itu, maka banyak orang merasa bahwa belajar filsafat tidaklah penting.

Kemudian banyak juga yang mengira, bahwa belajar filsafat dapat membuat seseorang tidak percaya agama. Mereka menggap filsafat mendorong orang untuk menjadi ateis, yaitu orang yang tidak percaya tuhan. Dengan anggapan semacam ini, semakin banyak orang yang takut untuk belajar filsafat. Sudah bikin pusing dan bikin orang jadi ateis, mengapa filsafat tidak dihapuskan saja dari muka bumi ini?

Sayangnya, setelah beberapa tahun ini saya menggeluti filsafat, saya berpendapat, semua anggapan itu salah. Filsafat tidak abstrak, melainkan sebaliknya, Filsafat justru berbicara tentang kehidupan manusia yang nyata dengan segala kerumitannya. Filsafat juga tidak mendorong orang untuk menjadi ateis atau tidak beragama melainkan orang itu sendiri yang memilih jalan keyakinannya.

Filsafat juga  membentuk cara berpikir kita agar menjadi kritis, masuk akal dan reflektif. Ateis atau tidak, itu pilihan pribadi. tergantung bagaiman orang itu memilih jalan keyakinan yang akan dia anut.

Selama manusia masih berpikir dan bertanya, filsafat tidak akan pernah hilang dari muka bumi ini. Filsafat lahir dari dorongan alamiah manusia. Energi dibaliknya adalah rasa heran, rasa kagum dan rasa ingin tahu.

Perkembangan filsafat akan sangat mendorong perkembangan ilmu pengetahuan. Inilah yang selalu memberikan sumbangan besar untuk melestarikan dan mengembangkan kehidupan secara keseluruhan hingga saat ini.

Apa Hubungan antara Filsafat dan Kebahagiaan Hidup?

Hidup yang bahagia adalah hidup yang dijalani dengan cara berpikir yang tepat. Kerangka berpikir dari berbagai macam sudut pandang inilah yang ditawarkan filsafat. Kita hanya perlu memilih, sudut pandang mana yang pas untuk hidup kita.

Ibaratnya filsafat itu sebuah hidangan makanan yang sudah tersedia di meja makan. kita hanya perlu memilih lauk mana yang pas untuk selerah kita.

Pada tahun 2014 lalu, Reza A.A Watimena menulis buku yang berjudul "Filsafat sebagai Revolusi Hidup". Revolusi yang dimaksud disini adalah revolusi yang bisa dimengerti sebagai perubahan yang cepat dan mendasar di dalam kehidupan seseorang.

Filsafat adalah sebuah kegiatan revolusi batin yang berlangsung tanpa henti. Namun, ia tidak hanya terjadi di dalam kehidupan pribadi, tetapi juga mendorong revolusi sosial politik yang bertujuan untuk menciptakan masyarakat yang lebih adil dan lebih makmur.

Hasil dari proses berpikir filosofis yang mendorong revolusi ini adalah hidup yang bahagia. Kebahagiaan, dengan kata lain, lahir dan berkembang, setelah orang mengalami revolusi berpikir di dalam hidupnya.

Kebahagiaan adalah hasil dari revolusi hidup. Maka di dalam buku yang berjudul ”Bahagia, Kenapa Tidak?” karya Reza A.A Watimena juga, dapat meberikan penjelasan lanjutan tentang revolusi hidup yang bahagia.

Apa yang Menjadi Definisi Hidup Bahagia? 

Ada begitu banyak definisi tentang hidup yang bahagia. Definisi ini tersebar di berbagai disiplin ilmu, mulai dari filsafat, psikologi, teologi, spiritualitas bahkan biologi. Setelah menelusuri berbagai definisi tersebut, saya sampai pada kesimpulan sederhana.

Hidup yang bahagia menyentuh tiga tingkatan.

Pertama, Hidup yang Bernilai dari Kaca Mata Pribadi.

Yang dimaksud Hidup yang Bernilai dari Kaca Mata Pribadi yaitu kita menganggap cara hidup kita itu penting dan menarik untuk diri kita sendiri. 

Kedua, Cara Hidup yang Bermakna bagi Orang Lain.

jadi cara hidup tersebut tidak hanya bernilai secara pribadi, tetapi juga bermakna untuk orang lain. artinya cara hidup yang kita pilih dapat membuat orang lain merasa terbantu.

Ketiga, Hidup yang Terlepas dari Nilai Pribadi dan Makna Sosial.

Hidup yang terlepas dari nilai pribadi dan makna sosial artinya kita melampaui diri pribadi serta tuntutan sosial, dan menjadi bebas sepenuhnya. Sehingga hidup kita menjadi alamiah sepenuhnya, serta mampu menanggapi segala keadaan yang terjadi secara tepat. Inilah yang saya sebut dengan kebahagiaan sebagai pencerahan batin.

Hegel, filsuf Jerman abad 19, menyebut hidup yang bernilai secara pribadi sebagai moralitas, dan hidup yang bermakna sosial sebagai hukum. Yang pertama memberikan kepuasan pribadi. Yang kedua memberikan kesesuaian dengan kehidupan sosial. Namun, keduanya lalu dilampaui ke dalam Sittlickeit, yakni tata moral yang mendamaikan tegangan antara keinginan pribadi dan tuntutan sosial masyarakat.

Michael Bordt, dosen di Hochschule für Philosophie München, menyebut hidup yang bahagia sebagai hidup yang berhasil (das gelungene Leben). Ia memberikan kepuasan pribadi maupun makna kepada orang lain. Tidak ada pertentangan antara prinsip hidup pribadi dan nilai-nilai sosial masyarakat. Dengan cara berpikir seperti inilah orang bisa menjalani hidupnya dengan bahagia.

Bordt juga menegaskan, bahwa kita kini hidup di dalam ma­syarakat yang serba tidak pasti dan identitisa pribadi kitapun juga menjadi tidak pasti. Mungkin, kemarin saya bekerja sebagai politikus, dengan identitas diri dan identitas sosial sebagai seorang Politisi. Namun, bisa jadi besok saya mengganti pekerjaan menjadi seorang pialang saham. Dari hal itu maka identitas diri dan identitas sosial saya pun berubah.