Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

[Puisi] Awal Tanpa Akhir

MEMANDANG langit gelap di heningnya malam, membuatku bertanya pada diri sendiri. apakah semua ini nyata?

waktu berjalan tak kenal henti. masalah terus menghadang tiap jejak yang kutapaki, hingga membawaku di suatu masa yang tak dapat kulerai; saat di mana kau berlalu pergi, dan meninggalkan segudang kenangan tanpa permisi.
 
kendati pun, wujudmu tak lagi bersamaku, lamun kenanganmu menjaga cintaku; membuatnya bertumbuh tak pernah layu.

meskipun kita terpisah oleh jarak dan waktu, cintamu tetap merasuk kedalam jantung, yang menjadikanku orang yang paling beruntung.
 
Lamun, kini aku sadar, 
tembangmu menjadi nyata dalam rupa cinta. laiknya doa pada Yang Kuasa. membuatku berjuang ikhlas, meski dengan cinta yang kandas.
 

Kabar

SANG budak yang ingin merayakan hari kebahagiaan, sontak terhenti karena surat undangan. sang maharani mewartakan pesan; agar sang budak hadir dalam panggung suci. 
 
semuanya di luar nalar. membuat tubuh sang budak terus bergetar, bulan kebahagiaan berubah pilu.
 

Pengakuan

SANG ratu sampai di altar kesucian 
duduk di atas kemuliaan yang paling putih,
di ruang lapang yang indah, dengan lantunan lagu kebahagiaan.
 
di tempat lain, sang budak duduk membatu di kejahuan. tak terasa air mata jatuh bercucuran, sekuat tenaga berperang, 
dengan rasa sakit yang sulit ditepiskan;

aku lah sang budak,
budak yang sadar 
akan keikhalasan cinta.
akulah sang budak, 
rasa sakit dan penderitaan 'kan kuabaikan untuk cinta 
karena, jiwa-ragaku selalu kupersembahkan di hadapan cinta. 
 

Aku lah Sang Budak

KUHARAP kau dapatkan harapku;
kebahagiaan yang kuperjuangkan 
tiada putus walau ditelan ruang dan waktu 
apalagi hanya ikrar penghulu. 
 
meskipun kau terbang dengan bahagiamu 
menari dan bernyanyi bersama bintang kecilmu. aku 'kan selalu berusaha,
menjaga cahayamu
walau ku hanya bisa mengagahmu di kejauhan. 
 
sudah ku baktikan jiwa-ragaku 
untuk menjaga bahagiamu 
sampai kelak ada yang memanggilku 
untuk pulang,
terbaring lemah 
di atas tumpukan tanah dan batu. 

kau tetap bidadariku 
meski kini kau tak lagi bersamaku 
aku tetap lah budakmu, 
budak dari semua awal kebahagiaanmu. 


Meleburkan diri 

DALAM diri kau hadir 
bermain dan menari 
menunjukkan keindahanmu yang hakiki 
hingga memenuhi tiap sudut di hati 
 
ku 'kan meleburkan diri 
ke dalam indahmu, 
melepaskan segala kemelekatan selainmu 
supaya jiwaku menyatu bersamamu 
memberikan ragaku sepenuhnya ragamu 
 
karena,
inginmu adalah bahagiaku 
pintamu adalah kewajibanku 
dan lukamu adalah kesalahan terbesar dalam hidupku.

Sang Perindu

INGINKU mengingkari rasa,
engkau yang kini telah pergi menjauh dari sisi. entah mengapa bayangmu selalu ada,
seakan melebur bersama ideaku. 
 
cinta kita yang berakhir duka-luka
membuatku tak percaya lagi lakumu 
mudahnya kau beralih hati 
membuatku jadi tak bedaya 
 
kini aku bertutur pada semesta,
membuatku percaya; bahwa
jarak dan waktu, tak 'kan bisa 
menghapus cinta.
 
inilah aku 
sang perindu 
meski engkau telah pergi
dan
tak lagi kembali, 
hatiku selalu menantimu 
aku selalu menunggu cinta,
meski pun cinta tak meminta untuk ditunggu 
 
semuanya kulakukan tanpa henti 
sampai ardi-bentala memanggilku kembali 
agar menghadap 
kepada Ilahi 
untuk bercerita tentang cinta yang telah dianugrahi.
Moh Fadhel Fikri , Manusia yang berteman dengan sunyi.