Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Masalah Analogi Masjid dan Pasar di Masa COVID 19

Masalah Analogi Mesjid dan Pasar di Masa COVID 19

Banyak sekali cara umat mengekspresikan rasa cinta terhadap agamanya. Salah satunya adalah membuat analogi agar pesan dapat dipahami, diterima dan diikuti oleh orang lain. Dalam studi-studi keislaman misalnya, penggunaan analogi ini banyak dipakai terutama oleh kelompok filosof, teolog dan sufi. Mengapa harus menggunakan analogi?, karena bahasa sebagai alat komunikasi yang digunakan, disamping membutuhkan penjelasan secara detil agar seseorang dapat memahami dan menafsirkannya, juga karena bahasa tidak mampu mengartikulasikan makna yang sesungguhnya dirasakan oleh subjek atau pemberi pesan.

Term analogi ini, di dalam KBBI, diartikan sebagai adanya persamaan atau persesuaian antara dua hal atau benda atau bentuk yang berlainan. Di dalamnya, analogi juga dapat disebut sebagai kias. Ferdinant de Saussure, seorang filosof dan bapak linguistik modern tahun 1857 – 1913 dalam bukunya Course de Linguistique Generale menyatakan bahwa analogi adalah bentuk peniruan dari satu bentuk menjadi bentuk lainnya dengan syarat bentuk tiruan tersebut harus sama dan sesuai dengan yang ditirunya.

Misalnya, kita mengambil contoh kalimat dalam sebuah percakapan yang sering kita dengar: “Berada di dalam kelas ini, seperti berada di dalam pasar tradisional. Kalimat ini adalah sebuah pernyataan yang ingin menggambarkan sebuah kelas yang ramai dan berisik seperti pasar tradisional. Pada kalimat itu, suasana kelas yang ramai dianalogikan dengan pasar tradisional.

Di kalangan pemikir Islam, baik para mutakallimin maupun para fuqaha, sering memperdebatkan masalah analogi ini, terutama jika terkait masalah keberadaan Tuhan. Misalnya ada kata- kata yang menyebutkan bahwa Tuhan memiliki tangan, seperti dalam surah Al-Fath:10, “yadullahi fauqa aidihim”, atau Tuhan berada di atas, surah Al-An’am: 18, “wahuwa al-qahiru fauqa ibadihi”. Kelompok salafi wahabi, misalnya, karena anti dengan argumentasi analogi, mereka mengartikan Tangan Allah ini, sesuai dengan makna kharfiahnya. Bahayanya pemaknaan seperti ini, Tuhan diserupakan dengan manusia.

Karena itu, untuk menghindari pemaknaan keserupaan Tuhan dengan manusia tersebut, kelompok ahlu sunnah waljamaah, dalam hal ini Asy’ariyah, menggunakan anologi, dengan menafsirkan kata Tangan Tuhan, dengan makna Kekuasaan dan Keagungan Allah.

Dengan demikian ayat di atas berarti bahwa Kekuasaan Allah berada di atas kekuasaan mereka. Dalam konteks pemaknaan analogi seperti ini, baik Asy’ariyah maupun Mu’tazilah memiliki kemiripan pemaknaan. Demikian juga kata “fauqa ibadihi”, tidak dipahami sebagaimana pemahaman kelompok salafi wahabi yang mengartikan kata fauqa secara zohirnya ayat dengan makna “di atas”. Makna seperti menyamakan Tuhan dan manusia, karena menempatkan posisi Tuhan memiliki tempat dan arah.

Untuk menghindari hal itu, Asy’ariyah menganalogikan makna “fauqa” dengan makna Maha Menundukkan dan Maha Menguasai. Dengan demikian, arti ayat tersebut adalah: Dia Allah yang Maha Menundukkan dan Maha Menguasai para hambanya. Pemaknaan analogi seperti ini diperkuat oleh Al-Hafiz Ibn Al-Jauzi dalam kitabnya, Daf’u Syubah at-Tasybih. Menurutnya, penggunaan kata “fauq” biasa dipakai dalam mengungkapkan ketinggian derajat. Seperti dalam Bahasa Arab bila dikatakan, “Fulan fauqa fulan”, maka artinya si Fulan yang pertama lebih tinggi derajatnya dari si fulan yang disebutkan kedua. Tidak bisa diartikan secara kharfiyah bahwa si fulan yang pertama berada di atas pundak si fulan yang kedua.

Demikian sekilas gambaran tentang penggunaan analogi di kalangan pemikir muslim awal. Nukilan analogi sebagaimana diulas di atas, sengaja dikemukakan, karena saat ini, terutama ketika umat Islam di Indonesia mengalami wabah covid-19, muncul analogi Masjid dan Pasar, yang argumentasinya tidak hanya terkesan emosional dan tidak rasional, tetapi juga menyesatkan umat.

Misalnya, dengan nada mencibir mereka mengatakan: “Keluar rumah biasa saja, ke kantor biasa saja, ke ruang public biasa saja, dan terlebih ke pasar, selalu saja punya alasan. Giliran ke masjid takut corona. Logika yang sulit dipahami. Di rumah aja dan tidak keluar rumah sama sekali bahkan shalat pun di rumah, tidak di masjid karena waspada corona. Logika yang mudah dipahami”. Ada lagi yang menyatakan begini: “Masjid di tutup kok pasar masih di buka? Tidak berjamaah ke masjid, tapi masih keluar bekerja. Situ waras?!”.

Menyimak argumentasi analogis di atas, sepertinya ada yang keliru untuk tidak mau menyatakan sesat pola berpikir seperti itu.

Pertama, bagaimana mungkin masjid dan pasar, dua hal yang berbeda mau disamakan?. Bukankah masjid itu adalah tempat suci, paling mulia dan paling dicintai Allah, sedang pasar adalah tempat yang paling kotor dan paling dibenci Allah.

Bagaimana bisa dianalogikan dua tempat yang posisinya antara langit dan bumi, mau disamakan dan disejajarkan?. Ada apa? Itu artinya sama dengan merendahkan derajat kemuliaan masjid. Analogi seperti ini sama persis dengan strategi yang dilakukan oleh kelompok Islam radikal di Indonesia, yang ketika ingin merekrut anggota baru dari kelompok anak-anak muda Islam, mereka menanyakan: “Mana baik dan mulia antara Al-Qur’an dan Pancasila?”.

Jawabannya, pasti Al-Qur’an lebih baik dan mulia dari Pancasila. Sepintas lalu, kedengarannya bagus, benar dan masuk akal. Tetapi pertanyaan ini menjadi konyol dan menyesatkan, karena bagaimana mungkin membandingkan Al-Qur’an ciptaan Allah yang paling mulia, disamakan dan bahkan disejajarkan dengan Pancasila yang hanya karya manusia biasa.

Kedua, masjid sebagai tempat ibadah umat Islam, bukan satu-satunya tempat ibadah, sementara untuk pasar tidak. Melaksanakan shalat bisa dimana pun yang penting bersih dan suci tempatnya, terlebih di masa covid 19, karena ada bahaya yang mengancam, maka rumah bisa menjadi alternative. Sementara pasar berbeda.

Masyarakat ketika butuh atau mau membeli beras, sayur, ikan, tomat, merica dan sebagainya, mereka tidak bisa menemukannya di rumah. Itu semua hanya ada di Pasar. Sehingga meski masjid ditutup karena alasan virus corona, ibadah shalat bisa dilaksanakan di rumah.

Ada pun di Pasar, jika ditutup maka otomatis kebutuhan pokok sehari-hari masyarakat tidak dapat terpenuhi. Itu artinya, nyawa manusia bukan hanya terancam, tetapi juga beresiko besar terjadinya masalah sosial yang dampaknya lebih rumit dan membahayakan.

Sementara dalam agama, hifzun nafas, menjaga atau memelihara jiwa, sebagai salah satu tujuan syariat, menjadi prinsip hidup yang diwajibkan oleh agama. Atas dasar pemikiran seperti inilah, saya kira, kita dapat memahami himbauan MUI untuk menutup sementara masjid, dan bukan pasar.

Terakhir, untuk maksud lebih memahami fungsi analogi dalam konteks beragama, saya ingin mengungakap kisah pengalaman sufi agung, Maulana Jalaluddin Rumi, salah satu pemikir Islam yang banyak menggunakan analogi dalam karya-karyanya.

Rumi merupakan tokoh sufi yang sangat mahir menggunakan analogi atau metafora, begitu kata Jalaluddin Rahmat. Orang Persia menyebutnya Zarbul Matsal. Ia membimbing para pembacanya untuk memahami konsep-konsep yang sulit atau sekedar meyakini argumentasi yang dikemukakannya dengan berpikir analogis, alih-alih berpikir logis.

Ketika seorang ahli Fiqh mengkritik dia karena berzikir sambil menari, Rumi membuat analogi. Bukankah dalam fiqh ada kaidah “hal yang membahayakan dapat membenarkan hal yang dilarang”. Kita boleh makan yang haram, jika tubuh kita terancam kematian. Sekiranya menari itu haram, itu terpaksa dilakukan ketimbang ruh kita mengalami kematian. Di sini, Rumi menganalogikan kematian ruh dengan kematian tubuh.

Moh Fadhel Fikri , Manusia yang berteman dengan sunyi.
Thahir, Lukman S. 2020. Filsafat Pandemi. Yogyakarta: LADANG KATA.